Jumat, 14 Februari 2014

Di Balik Jendela

Saya duduk di depan jendela, di luar masih gelap, bukan karena masih shubuh atau mendung, melainkan karena kabut asap. Sudah berlangsung dalam hitungan minggu, cuaca di Pekanbaru seperti ini. Musim hujan di sini sepertinya telah berlalu, cuaca kembali panas terik dan kembali ada pembakaran lahan yang mengakibatkan kabut asap. Sedih, karena nggak bisa keluar untuk menikmati sejuknya udara pagi, terlebih ketika hamil begini, berjalan kaki sejenak di pagi hari menjadi olahraga, yang juga dapat menyehatkan jantung.

Tapi, bukankah kita sebagai manusia harus tetap melangitkan rasa syukur?. Setidaknya pagi ini saya masih bisa duduk manis di depan jendela, sambil menikmati sarapan dan bukan di pengungsian, seperti saudara-saudara di daerah lain yang terkena bencana banjir dan gunung meletus (Sinabung). Bahkan saya hanya kehilangan momen untuk berjalan-jalan kaki di pagi hari, sedang mereka kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Dan pagi ini, kembali datang berita bencana alam, bahwa gunung Kelud meletus. Terjadi hujan abu di beberapa daerah, langit menjadi gelap. Ya Rabb... ampunilah kami...

Pagi... bersyukur saat masih diberikan nafas, masih diberikan waktu untuk berbuat lebih baik dari hari sebelumnya. Mari melangitkan doa untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana...


Di Balik Jendela

Khasiat Ajaib Delima



Alhamdulillah... buku saya yang terbit di awal tahun ini. Sudah beredar di toko buku Gramedia. Buku ini mengupas tuntas khasiat dari buah delima, buah cantik yang kaya khasiat bermanfaat bagi tubuh. Selamat membacaaaaa... semoga bermanfaat ^_^



@Gramedia Pekanbaru

Rabu, 12 Februari 2014

Sayur Bayam Merah

Saya sebenarnya termasuk orang yang kurang doyan makan sayur, bisa dibilang keberadaan sambal saat makan lebih penting dibandingkan sayur. Berbeda dengan si abi yang mengharuskan ada sayur disetiap menu masakan, sekalipun cuma berupa lalapan. Jadi, Abi adalah contoh yang baik bagi Nai untuk rajin mengkonsumsi sayuran. Tapi di saat hamil seperti sekarang ini, jangan coba-coba nggak makan sayur, si Abi lebih ngotot dari biasanya ^_^

Sayur yang sering kami konsumsi beraneka ragam, demikian juga dengan cara pengolahannya. Ada yang hanya dijadikan lalapan, direbus, ditumis, atau digulai. Yang menjadi favorit saya adalah sayur bayam merah. Tidak hanya rasanya yang enak dan warnanya yang cantik, bayam merah memiliki kandungan gizi yang luar biasa, yaitu energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C. Bayam merah bermanfaat untuk meningkatkan kinerja ginjal, mengatasi kurang darah, bisa mengobati disentri, dapat membantu untuk menguatkan akar rambut, bahkan bayam merah segar yang dihaluskan dapat digunakan untuk mengobati luka akibat gigitan binatang berbisa, dengan cara ditempelkan pada bagian yang luka.





Menjadi Remaja Unggul dengan Meneladani Akhlak Rasulullah Saw



Tak kenal maka tak sayang, tak sayang, maka tak cinta. Tidak heran apabila saat ini banyak kaum remaja yang tidak mencintai Rasulullah Saw, karena mereka tidak mengetahui dan mengenal dengan baik bagaimana sosok Rasulullah Saw. Kebanyakan mereka lebih mengenal idolanya sendiri yang kebanyakan berasal dari artis-artis yang sering wara-wiri di televisi, yang bahkan hidupnya juga transparan dan menjadi pemberitaan setiap hari.

Menjadi remaja unggul dengan meneladani akhlak Rasulullah Saw adalah materi yang saya angkat, saat saya diundang untuk mengisi sebuah acara peringatan maulid Nabi Muhammad Saw di SMK PGRI Pekanbaru. Saat itu, saya membahas mengenai bagaimana sosok Rasulullah, yang tidak hanya memiliki kesempurnaan fisik namun juga kesempurnaan akhlak. Lalu, sebagai generasi muda masa kini, apa saja yang bisa para remaja lakukan agar menjadi umat yang dibanggakan dan disayang oleh Rasulullah Saw.

Materi yang saya sampaikan kurang lebih 1 jam diikuti dengan antusias oleh siswa/siswi SMK PGRI Pekanbaru. Materi saya tutup dengan mengajak para remaja untuk lebih giat mengaji mencari ilmu dan membaca buku-buku tentang Rasulullah Saw, uswatun hasanah.








Jumat, 10 Januari 2014

(Bukan) Rico De Coro



Hai... cantik... tunggulah sebentar, aku Rico De Coro*, aku hanya ingin tahu siapa namamu...
Ah! sombong sekali dirimu, mentang-mentang warna kulit kita berbeda, lantas kau bisa mengabaikan aku begitu saja. Please... berpalinglah padaku walau hanya sedetik, sungguh, tidak ada yang pernah dan bisa mengabaikanku, seperti yang telah kau lakukan saat ini.

Aku, Rico De Coro, kecoa paling tampan, si petualang yang punya banyak kisah untuk ku bagi. Seluruh tempat di penjuru rumah ini telah aku singgahi. Aku selalu selamat dari setiap mara bahaya yang mengancam makhluk seperti kita. Maka, aku bisa melindungimu, aku bersedia menjadi pelindungmu disepanjang hidupku...

*Rico De Coro : Salah satu tokoh kecoa di salah satu kisah dalam buku Filosofi Kopi karya Dee




Tak sengaja saya melihat 2 kecoa ini di salah satu sudut rumah. Alih-alih mengusir atau memusnahkan mereka, saya malah lari mengambil kamera dan mengabadikannya, karena sebenarnya saya takut eh jijik sama Coro hehehe... :)

Kamis, 09 Januari 2014

Di Mall Pada Suatu Waktu

Lantai 3 Mall ... Pekanbaru (Toko Buku)

Mbak-mbak: Kok bukunya difoto-foto Mbak?

Saya: (Lagi asyik jeprat-jepret buku-buku temen-temen yang gi nangkring di rak tobuk). Iya Mbak, buku-buku temen saya

Mbak-mbak: Wah, temen-temen Mbak penulis yah?

Saya: Iya Mbak

Mbak-mbak: Berarti Mbak penulis juga dong?

Saya: Hmmm... penulis pemula Mbak (masih sering nggak PD dibilang penulis :D)

Mbak-mbak: Wah hebaaaat... saya baru tahu lho Mbak kalau di Pekanbaru ada penulis juga. Buku Mbak apa? ada di sini juga kan? (antusias)

Saya: (masih malu-malu tapi otak promo jalan, kali aja dia mau beli, lumayaaaaan :D), buku-buku saya ........... mungkin Mbak berniat buat beli yang ini ...... cocok untuk perempuan.

Mbak-mbak: (Tersenyum) Mbak cantik deh 

Saya: (kok buku-buku yang saya sebutin tadi nggak ditanggapi, tadi antusias banget buat nanya, mulai ilfiill. Saya ngeluarin HP mau call si Abi yang gi asyik di tempat bermain anak dengan Nai.) Maaf yah Mbak, saya mau call suami saya dulu.

Mbak-mbak: Mbak udah nikah yah? udah punya anak?

Saya: Sudah Mbak

Mbak-mbak: Ya ampuuuuun, nggak kelihatan lho mbak kalau udah jadi ibu-ibu, saya pikir Mbak masih jadi mahasiswa.

Saya: (tersenyum, GR juga dipuji begitu, rencana memang mau jadi mahasiswa lagi, kalau dikasih rezeki buat ngambil S3 :D)

Mbak-mbak: Anak mbak udah punya asuransi belom Mbak? bla.... bla.... bla....

Saya: (Gubraaaaaaaak... udah melambung, langsung terjun bebas) Oh, mbak dari asuransi .... yah.

Mbak-mbak: Iya Mbak, kalau mbak gabung dengan kami, mbak bakal dapet manfaat bla... bla... bla...

Saya: (Mulai gerah, masih pegang HP, belom jadi call suami, berharap suami yang call biar Mbak ini bisa berhenti sejenak ngomongnya) Maaf mbak, kalau urusan asuransi saya harus komunikasikan sama suami dulu (tetep pasang senyum manis)

Mbak-mbak: Suaminya dimana Mbak? kalau bisa ketemu, biar langsung saya jelaskan juga (belum nyerah)

Saya: (waduh, makin bingung) Maaf, mungkin lain kali aja yah Mbak

Mbak-mbak: Oh... (pasang muka kecewa) Ini kartu nama saya Mbak, minta no HP mbak yah

Saya: (masih senyum, mikir, tapi terpaksa ngasih no HP juga) nomor saya ............


Temans... pernah ngalamin ini juga nggak? bertemu dengan agen asuransi atau sales dari sebuah produk tertentu. Mungkin ada yang fine-fine aja untuk meluangkan waktunya mendengarkan penawaran dari mereka, karena mungkin juga memang sedang membutuhkan informasi dan berminat untuk tahu lebih banyak dengan produk yang mereka tawarkan.

Tapi, banyak juga yang merasa terganggu saat ada penawaran dari agen asuransi atau sales seperti mereka. Bisa berbagai macam alasannya, entah waktunya yang tidak tepat atau cara mereka menawarkan yang tidak sesuai dengan hati. Bahkan, banyak juga yang berkilah, kalau butuh informasi mereka tinggal mendatangi kantor resmi, nggak usah diuber-uber di luar.

Saya pribadi, waktu itu sebenarnya agak terganggu, karena saya juga sedang terburu-buru, ada buku yang hendak saya cari. Suami juga berpesan jangan lama-lama, karena dia hafal betul bagaimana istrinya kalau udah berada di tobuk, bisa berjam-jam. Tapi, bukan berarti juga kita harus bersikap buruk, ketus, atau menunjukkan reaksi negatif lainnya. Namanya juga orang lagi usaha, peluangkan bisa dimana saja.

Jadi, kita hargai mereka, kalau tidak berminat, sampaikan dengan baik-baik. kalau mereka masih ngeyel? semoga kita bisa bersabar. Dalam dunia kerja, kita, suami, adik, saudara, dll bisa saja berada di posisi mereka, walaupun dalam bentuk penawaran yang berbeda. Dulu saya masih suka mangkel juga, sebel banget, tapi suami selalu mengingatkan. Alhamdulillah...

Temans punya pengalaman yang sama? :)



Rabu, 08 Januari 2014

Helm Unik


Cuaca mendung, di siang hari daerah tempat tinggal saya sepi. Pas melihat ke jendela, di luar saya melihat bapak-bapak memakai sepeda motor dengan keranjang besar di belakangnya. Sepertinya bapak ini adalah pengumpul barang bekas, mungkin berhenti karena melihat kardus saya yang teronggok di halaman. Kardus besar itu memang sudah tidak saya gunakan lagi, sengaja saya letakkan di luar untuk diangkut oleh petugas yang rutin mengambil sampah setiap hari di area tempat tinggal kami.

Saat melihat bapak tersebut, ada yang menarik, yaitu helm yang digunakannya. Sungguh kreatif!, helm tersebut terbuat dari bekas galon yang dimodif sedemikian rupa. Ada penutup kacanya dan tali pengamannya juga, persis seperti helm yang biasa digunakan pengguna kendaraan bermotor roda dua lainnya. Nah, saya agak bingung juga, rute bapak ini kemana aja yah, apakah helm tersebut sudah sesuai dengan SNI (Standar nasional Indonesia) sehingga aman dari razia polisi hehehe...

Langsung saya ambil kamera dan memotret si bapak, takutnya keburu pergi. Temans ada yang berminat menggunakan helm seperti ini? :)



Oleh-oleh dari Thailand Ala Abi

Oleh-oleh si Abi ^_^

Tahun 2013 lalu, Abi pergi ke Thailand dalam rangka pratikum dari kampusnya, yah walaupun menurut saya nih lebih tepatnya darmawisata alias jalan-jalan atau liburan, biasaaaalah :D

Tempat yang rombongan Abi kunjungi adalah Hat Yai, kota terbesar ketiga di negara Gajah putih tersebut. Letaknya di Thailand selatan, diperbatasan Malaysia. Saya bukannya mau ngomongin kisah perjalanan si abi, tempat apa saja yang dikunjunginya. Tapi bahas tentang oleh-olehnya hehehe...

Bukan kali ini saja si Abi pergi ke luar kota atau Luar negeri tanpa anak dan istri, baik dalam rangka pekerjaan atau urusan kampus seperti ini, jadi nggak heran juga kalau oleh-oleh yang dibawanya pasti makanan. Ndilalah, ekspektasi saya meleset, makanan yang Abi bawa ada di sini, bukan sesuatu yang istimewa, seperti kripik labu bertabur wijen, dodol durian, manisan asam. Emang nggak ada sesuatu yang beda yah.

Si abi juga membelikan saya bros berbentuk gajah, juga sebuah dompet yang ngakunya asli dari kulit gajah :D *futunya nggak usah yak hihihi... siapa tahu imitasi aka KW 10

Si Abi juga beli beberapa baju kaos ukuran dewasa bergambar gajah, juga sepasang pakaian (masih) berornamen gajah untuk anaknya, Nai. Yang bikin saya rada sebel, si Abi cerita kalau di rombongannya, yang perempuan pada shopping ke mall dan borong tas-tas bagus berharga miring *ahhhhhh... kenapa nggak nitip buat saya sekalian :'(  Alasannya, takut warna dan modelnya nggak sesuai dengan keinginan saya, trus nggak kepake.

Yah, begitulah yah temans kalau laki-laki beli oleh-oleh, udah syukur aja deh dia inget buat bawa oleh-oleh, apalagi si Abi bukan tipe yang doyan belanja kecuali belanja makanan hihihi... O yah, saya lupa buat futu logo halal yang ada si kemasan makanan di Thailand, soalnya sebagai muslim kita kudu hati-hati juga buat belanja. Akhirnya saya googling deh, seingat saya seperti ini deh logonya :))
 

Buat temans yang udah pernah stay or jalan-jalan ke Thailand, oleh-oleh makanan khas di sana apa sih? :))



Selasa, 07 Januari 2014

Hidupkan Mading (Majalah Dinding)

Ini masih seputar cerita tentang saat saya menjadi pembicara di seminar di UIR (Universitas Islam Riau) pada hari ibu lalu. Acara usai tepat sebelum waktu shalat zuhur masuk. Setelah itu, saya dan Bunda Mutia langsung menuju masjid kampus untuk melaksanakan shalat zuhur. Ada yang menarik perhatian saya di sana, seusai shalat, saya lama sekali berdiri di hadapan sebuah papan besar yang tergantung di dinding, yang dikenal dengan mading, majalah dinding.

Saya merasa kembali bernostalgia pada masa-masa sekolah dan kuliah dulu. Saya aktif sebagai anggota mading, bahkan saat saya masih mengajar dulu, saya adalah pembina mading. Senang sekali rasanya masih ada yang aktif untuk mengurus mading. Bisa dikatakan lewat madinglah saya mulai berani mengekpos tulisan-tulisan saya. Jadi, setidaknya ada beberapa manfaat bagi kita yang aktif mengisi mading, seperti:
  • Mading biasanya setiap waktu penayangannya memiliki tema tertentu. Jadi, selain terbiasa menulis, kita juga menjadi terbiasa untuk mencari dan mengolah informasi yang berkaitan dengan tema, menjadi sesuatu yang tidak hanya menambah pengetahuan pembaca tetapi juga asyik dibaca, mudah dimengerti. Bagaimanapun, artikel yang kita tulis dibatasi oleh jumlah halaman.
  • Mading melatih kreativitas kita. Kita harus bisa membuat mading semenarik mungkin, terutama bagi penglihatan. Setelah terlihat menarik, orang-orang akan tertarik untuk membacanya.
  • Mading melatih kita untuk patuh deadline. Nah, karena mading biasanya tayang ada tema dan waktunya, maka setiap anggota yang ditugaskan harus bisa menyelesaikan bahan-bahan untuk mading sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Nah, kalau dilihat dari mading yang ada di Masjid kampus UIR tersebut, madingnya sudah memenuhi syarat sebagai mading yang baik. Madingnya tak hanya informatif tapi juga menarik ^_^






Talkshow di Hari Ibu (Bersiap Menjadi Ibu)

Sepertinya saya terkena sydrom ibu hamil yang bernama lupa hehehe... (alesaaaaan). Saya lupa untuk share di blog ini mengenai kegiatan saya di hari ibu tanggal 22 Desember 2013 lalu. Saat itu, saya diundang oleh organisasi kemahasiswaan UKMI Al-KAHFI UIR (Universitas Islam Riau) untuk menjadi pembicara dalam rangka hari ibu, dengan tema The Amazing Mom. Saya tidak sendirian, pembicara kedua adalah Bunda Jul Prima Mutia, pendiri Sekolah Ibu Keliling yang ada di Pekanbaru. Sebagai pembicara pertama, saya mengangkat judul tentang bersiap menjadi Ibu, sedangkan Bunda Mutia mengangkat judul tentang Ibu adalah Madrasah Pertama.

Saya naik ke atas panggung sekitar jam 10, setelah kegiatan-kegiatan lain dilaksanakan, seperti perlombaan membaca puisi untuk ibu, dll. Pesertanya, seluruhnya mahasiswi, dari berbagai tingkat dan Fakultas. Mereka mengikuti acara seminar ini dengan sangat antusias. Banyak yang berpartisipasi untuk urun pendapat ataupun memberikan pertanyaan-pertanyaan.

Baiklah temans, saya akan share secara garis besar tentang apa saja sih yang saya omongin ke mereka tentang bersiap menjadi ibu.

Saya memulainya dengan membahas tentang kodrat seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu. Ya, bukankah Allah menciptakan perempuan dengan fisik dan seperangkat "onderdil" di dalam tubuh yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan memiliki rahim untuk mengandung, kelenjer susu untuk memproduksi ASI, dll. Dari segi psikis, umumnya perempuan juga dikaruniai perasaan yang lebih perasa, lemah-lembut, dan penyayang.

Saya juga menjelaskan tentang masa depan yang pasti bagi seorang perempuan adalah menjadi seorang Ibu. Baik ibu secara biologis maupun ibu secara ideologis, karena kita tahu bahwa tidak semua perempuan juga mendapatkan karunia berupa kesempatan untuk melahirkan seorang anak. Tapi, bagaimanapun secara tidak langsung, kita juga adalah ibu bagi anak-anak saudara kita, tetangga kita, anak didik yang kita ajar di sekolah, anak-anak yang kita bina di pengajian, dll.

Jika untuk mendapatkan gelar sarjana strata 1 (S1) saja kita harus menempuh pendidikan setidaknya TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliah 4 tahun, yang jika ditotal kurleb 17 tahun, maka untuk menjadi seorang ibu, berapa lama waktu yang harus kita persiapkan?. "Baanaatul yaum ummahatul ghaad", anak perempuan hari ini adalah calon ibu di masa yang akan datang. Bahkan juga dikatakan bahwa maju mundurnya suatu negara tergantung bagaimana perempuannya.

Saya mengangkat judul bersiap menjadi ibu karena saya ingin berbagi bahwa untuk menjadi seorang ibu itu perlu ilmu. Sekalipun banyak orang yang beranggapan bahwa menikah, punya anak, ya sudah jalani aja secara naluriah, alami, proses hidup yang memang harus dilewati. Padahal, menjalankan peran sebagai seorang ibu yang baik tentu bukanlah semudah apa yang dibayangkan. Seorang ibu bukan hanya melahirkan, menyusui, membesarkan anak dalam artian mampu menambah berat dan tinggi anak. Kalau cuma itu mah gampang, asal anak cukup diberi makan dan minum saja beres. Tapi, ada hal lain yang lebih penting, yaitu mendidik. Bagaimana kita membentuk generasi yang beriman dan bertakwa, cerdas, sehat, dll.

Nah, nggak cukupkan kalau cuma mengandalkan naluri saja, tapi kudu ada ilmunya. Jangan sampai juga deh kita menerapkan cara turun-temurun, yaitu mendidik anak seperti orang tua kita mendidik kita dulu. Mungkin untuk hal-hal baik patut kita contoh, namun ada banyak hal yang mungkin udah nggak relevan lagi untuk kita terapkan kepada anak-anak kita. Ingat, kita harus mendidik mereka sesuai zamannya.

Menjadi ibu zaman sekarang banyak banget tantangannya, kita harus bisa menjadi ibu yang berkualitas, tangguh, tidak hanya mampu melahirkan keturunan semata bagi keluarga tapi juga melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Jadi, kita kudu tahu apa saja sih peran seorang ibu. Pertama, ibu itu memiliki tugas sebagai ummu wa robatul bait. Ibu adalah pengatur urusan rumah tangga, berkaitan dengan tugas-tugas domestik. Kedua, ibu adalah pendidik anak-anaknya. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, jadi kudu "pinter" dong. Ketiga, ibu sebagai bagian dari masyarakat. Ini mengenai bagaimana ibu juga bisa turut berperan aktif di sektor publik, seperti menuntut ilmu atau membagi ilmunya kepada masyarakat.

Terakhir, saya membahas tentang apa saja sih persiapan untuk menjadi seorang ibu, karena kita tidak tahu kapan jodoh akan datang, kapan kita menikah, dan kapan kita dikaruniai rezeki seorang anak. Jadi, harus mempersiapkannya semenjak dini, yah bisa dibilang semenjak kita remaja. Ketika kita sudah mengetahui ilmunya, maka ntar nggak perlu syok atau terkaget-kaget dengan seabrek tugas seorang ibu yang penuh dengan kebahagiaan sekaligus tantangan hehehe...

Pertama, perbanyak ilmu. Mumpung masih single, rajin-rajin deh ikut pengajian untuk menambah ilmu tentang agama, ini pentiiiiiiing banget, apa yang mau kita ajarkan ke anak kalau ilmu kita sendiri nggak ada. Selain itu bisa juga dengan membaca buku-buku pengetahuan lain tentang cara mendidik anak, psikologi anak, sampai resep-resep masakan yang sehat dan bergizi untuk anak. Pokoke semua yang berkaitan dengan rutinitas kita sebagai istri dan ibu. Kita harus memperluas wawasan terkait dengan teknik-teknik ngurus rumah tangga dan segala tetek bengeknya. Teknik bagaimana mengatur keuangan rumah tangga, teknik memasak, teknik bagaimana berkomunikasi dengan suami, anak, keluarga, tetangga, dll. Selain baca buku, bisa juga googling atau share sama orang-orang yang udah berpengalaman.

Kedua, siapkan fisik. Kasarnya nih, ibu itu nggak boleh sakit (ngeri amat), kalau ibu sakit semua terbengkalai. Ada lagi nih yang bilang, menjadi ibu itu kudu punya tangan gurita dan tenaga kuda. Waduh, berat amat yak tugas seorang ibu. Soalnya, tugas pengasuhan dan mendidik anak nggak bisa kita jalankan secara optimal saat kondisi kesehatan kita terganggu. Jadi, sejak dini harus menjaga kesehatan tubuh, organ reproduksi, misalnya dengan berolahraga, membiasakan diri mengkonsumsi makanan yang sehat, hidup bersih, dll.

Ketiga, belajar manajemen waktu. Ini nggak kalah penting, karena dengan terbiasa memenej waktu dengan baik, akan semakin memudahkan kita dalam melakukan tugas-tugas domestik kelak. Waktu bisa kita manfaatkan secara efektif dan efisien.

Oke deh temans, itulah garis besar yang saya bahas di acara seminar tersebut (kepanjangan yak ^_^). Walaupun saya pribadi bisa dibilang secara biologis baru 4 tahun 5 bulan merasakan menjadi seorang ibu, tapi semoga saja ilmu dan pengalaman yang saya share bisa bermanfaat.


Berpose bersama dengan Bunda Mutia dan panitia
(tebak saya yang mana ^_^)


Jumat, 27 Desember 2013

Resensi Kitab Sakti Remadja Oenggoel Oleh Agus M Irkham





Alhamdulillah... saya selalu bersyukur atas setiap apresiasi yang diberikan oleh pembaca buku-buku saya, baik berupa resensi/review, inbox yang berisi kesan dan pesan, kritik dan saran, apapunlah itu selama bersifat positif dan membangun, bukan menjatuhkan.

Seperti siang kemarin, saya mendapat informasi di twitter bahwa buku Kitab Sakti Remadja Oenggoel di resensi oleh seorang pakar, penulis dan pemateri yang sudah sangat berpengalaman di dunia tulis menulis ini. Beliau juga adalah suami dari Mbak Jazimah Al-Muhyi, salah satu penulis favorit dan yang menginspirasi saya untuk menulis. Dulu, di awal-awal saya memiliki akun FB (alasannya pengen nyari akun-akun penulis favorit saya), saya kerap berinteraksi dengan Mbak Jazim, saya juga anggota dari grup Ibu Rumah Tangga yang didirikan oleh Mbak Jazim, sebagai wadah saling support bagi sesama Ibu Rumah Tangga.

Berikut cuplikan resensi dari Bapak Agus M Irkham:

Peradaban dikonstruksi dan ditegakkan. Maka ada yang menyebut bahwa menulis adalah bekerja untuk peradaban. Nah, dalam upaya membangun peradaban itulah, buku ini tepat diletakkan. Sebuah buku yang patut didaras. Sesal saya hanya satu, buku ini harusnya terbit 20 tahun lalu, saat saya masih berseragam SMU. Selengkapnya...

Kamis, 26 Desember 2013

Mengeluh Itu Melelahkan, Bersyukur Membahagiakan

Seluruuuh orang hebat yang saya kenal, TAK SATU PUN gemar menulis-nulis keluhan di twit & status BB nya :)
(Tweet Ippho Santosa)


 Ada berbagai cara utk mengurangi potensi & kehebatan kita. Cara terampuhnya adalah dengan mengeluh
(Tweet Mario Teguh)


Makjleb banget yah kalimat dari 2 orang motivator tersebut. Kalimat tersebut saya temukan hampir disaat bersamaan saat berkelana di dunia twitter. Pas banget juga buat suasana hati saya yang rada-rada eneg, kesel, jengkel, saat menemukan banyak banget keluhan-keluhan yang nggak banget di dunia maya. Kenapa sih masih ada aja orang yang merasa hidupnya paling menderita sedunia, trus dapet efek lega yah kalau udah buang unek-uneknya di dunia maya.

Temans.. nggak semua orang yang baca status atau tweet kamu yang isinya galau melulu itu bersimpati, yang ada cuma kepo terhadap masalah kamu, mengasihani, atau bahkan sebel banget dan bakal cap kamu sebagai orang yang lemah, cemen, yang menjadikan menggalau sebagai hobi. Duh... jangan sampai deh, bukannya sok jaim, tapi bukankah lebih membahagiakan kalau banyak orang-orang mengenal kita sebagai orang yang menyenangkan, optimis, dan selalu bersemangat dalam menjalani hidup.

Hidup itu nggak melulu berisi kesedihan, pasti ada begitu banyak kebahagiaan. Tetaplah berprasangka baik kepada Allah. Itulah sebabnya, hidup mengajarkan kita untuk nggak terlalu lebar saat tertawa dan nggak terlalu keras saat menangis. Selalu ada ibroh dari setiap peristiwa. Sejatinya, berbagai masalah itu datang untuk semakin mendewasakan kita, semakin menguatkan, bukan sebaliknya.

Kalau yang sering mengeluh dan menggalau itu para ababil alias ABG labil, mungkin masih banyak pemakluman, karena memang mereka berada di usia dan tahap perkembangan fisik dan psikis yang drastis. Tapi, kalau yang melakukannya orang yang notabene sudah matang secara usia, rasanya gimana gitu. Yah, sekalipun usia tidak menjamin apakah seseorang tersebut sudah atau bisa berpikiran dewasa. Tapi, apa kita mau orang-orang menyamakan kita dengan para ababil tersebut?, saya memilih untuk tidak.

Rugi rasanya bila menjadikan sosmed sebagai tong sampah dari kegalauan atau keluhan-keluhan kita terhadap permasalahan pribadi yang seharusnya tidak menjadi konsumsi orang banyak. Seolah hidup kita ini transparan banget, sehingga mudah dilihat oleh siapa saja. Belum lagi kalau kekesalan kita menyinggung orang lain, karena status-status ambigu yang penuh dengan kebencian, kritik kasar, atau kalimat-kalimat negatif lainnya *Nah bisa menimbulkan permasalahan baru 

Trus, gimana dong caranya biar nggak mengeluh, menggalau, atau mengumbar kata negatif di sosmed?. Setidaknya ada 3 cara yang bisa saya share temans, yaitu:
  1. Ambil wudhu, gelar sajadah, shalat, dan berdoa kepada Allah. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi kita, jadi mintalah supaya Allah memberikan kita kemudahan dan jalan keluar dari setiap permasalahan yang kita hadapi, sekecil atau sebesar apapun masalah itu.
  2. Berbagilah. Eits... bukan di sosmed yak. Tapi kita bisa mencari orang yang bisa kita percaya untuk sharing masalah kita dan orang tersebut bisa memberikan solusi yang baik. Misalnya, kepada suami/istri, orang tua, guru ngaji, atau sahabat dekat. Tapi, kita kudu ingat bahwa berbagi juga ada aturannya, terlebih untuk permasalahan seputar suami-istri.
  3. Alihkan. Maksudnya adalah, mengalihkan sejenak pikiran kita dari permasalahan tersebut. Nggak ada salahnya untuk membuat tubuh dan pikiran kita rileks dulu agar bisa memandang permasalahan tersebut lebih jernih. Bosan dengan rutinitas, capek dengan tugas, puyeng dengan masalah saat ngurusin anak-anak di rumah, dll. Kita bisa mencoba aktivitas lain untuk membantu menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Nggak ada salahnya untuk sejenak menekuni hobi, membaca buku, jalan-jalan, sepedaan, bereksperimen di dapur mencoba resep masakan baru, dll.
Bagaimana? banyak cara yang lebih baik dan elegan bukan. Daripada suasana hati kita yang buruk tersebut menular kepada para pembaca status atau tweet kita di sosmed. Temans mau menambahkan? :)


Sumber gambar: FP Maher Zain

Rabu, 25 Desember 2013

Natal, Ngucapin Selamat?

Alhamdulillah... sejak dahulu kala, sejak kecil hingga saat ini saya belum pernah sekalipun mengucapkan selamat terhadap perayaan umat beragama lain. Terlebih setelah pengetahuan saya tentang agama yang saya anut sejak lahir semakin bertambah. Jadi, saat ada teman-taman agama lain merayakan perayaan yang ada di agama mereka, saya cukup bertoleransi dengan cara membiarkannya, tidak mengganggu.

Nah, bagaimana dengan temans?. Pernah nggak sih ngerasa sungkan untuk nggak ngucapin selamat, padahal yang merayakan itu adalah atasan kita di tempat kita bekerja?. Orang tua kandung, mertua atau saudara kita yang berbeda agama dan merayakannya?. Atau kepada teman-teman yang beragama berbeda dengan kita yang nggak lupa untuk selalu mengucapkan selamat atas perayaan agama kita?.

Kalau pernah, bagaimana sikap temans?, apakah temans memilih untuk ikut mengucapkan selamat atau diam saja?. Saya tak hendak menghakimi, di postingan kali ini saya hanya ingin share kultwit Ust. Felix Siauw, semoga menambah pengetahuan. Sekalipun perkara ini sudah menuai kontroversi sejak dulu, terjadi pro kontra di sana-sini. Temans... sungguh ini bukan perkara bahasa atau toleransi, bagi yang menggembar-gemborkan bahwa mengucapkan selamat tidak mengganggu, merusak, atau mengubah akidah, mari kita pahami lagi.

Berikut Kultwitnya:

1. ada satu hadits yang perlu saya sampaikan | karena banyaknya pertanyaan tentang boleh tidaknya ucapkan selamat natal

2. dari Abu Said al-Khudri ra bahwa Rasulullah Muhammad saw bersabda | "Kamu akan mengikuti sunnah (kebiasaan) kaum-kaum sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak (buaya) kamu tetap mengikuti mereka" | begitu simpul Rasulullah

3. kami (sahabat) bertanya | "Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?"

4. Rasulullah saw bersabda menjawab | "Kalau bukan mereka (Yahudi dan Nasrani), siapa lagi?" ( HR Bukhari dan Muslim)

5. jadi sudah jelas sebenarnya bagi kita panutan | Rasulullah saw peringatkan, ingat-ingat, sedikit demi sedikit kita diajak geser aqidah

6. hari ini ucap selamat, besok ikut hias pohon natal, lusa ikutan makan-makan natal, minggu depan ke gereja | bulan depan, tahun depan?T

7. sudah diatur dari Allah | "lakum diinukum wa liya diin" | kurang apalagi? | udah biarin aja mereka, jangan ikutan repot

8. toleransi jangan diartikan sempit | atau jangan gara-gara 'ngejer' dibilang toleran | dalil-dalil lain diabaikan

9. terakhir, saya kutipkan pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah | tentang mengucapkan "selamat" | mudah-mudahan manfaat

10. Ibnu Qayyim Al-Jauziah | "Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, disepakati bahwa perbuatan itu haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, 'Selamat hari raya!' dan sejenisnya"

11. "Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena bererti dia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah"

12. "Bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai dari memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran. maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah" | begitu kesimpulan Ibnu Qayyim Al-Jauziah

13. wallahua'lam bisshawab | bila ada saudara kita yang berbeda pendapat | selama dia memiliki dalil, mari kita saling menghargai

14. jadi besok kalem aja | nggak perlu sms-sms ucapan, atau ngucap selamat hari raya agama lain | mending tilawah, dapet pahala

 =======================================================================
 Kultwit pengalaman Ust. Felix Siauw

01. walau masih berbeda aqidah dengan kedua orangtua | alhamdulillah saya dikaruniai kemudahan dalam keluarga

02. di tahun 2002 saya menjadi Muslim setelah 18 tahun merayakan Natal | banyak yang berubah setelah saya memahami agama Islam

03. proses berpikir yang mengantarkan saya pada Islam | agama logis yang bisa memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah

04. prinsip tauhid di dalam Islam itu sederhana dan mengena | prinsip satu Tuhan itu menenangkan dan menentramkan

05. setelah menjadi seorang Muslim tentu banyak penyesuaian yang harus saya lakukan | aqidah Islam tentu menngubah banyak prinsip hidup

06. salah satu prinsip yang terpenting adaah penjagaan terhadap aqidah | pengakuan bahwa Allah itu satu dan tiada yang menyamai-Nya

07. saya memasuki Islam sekira bulan Oktober 2002 | maka ujian pertama ada di bulan Desember 2002 saat perayaan Natal keluarga

08. sulit sekali pada waktu itu untuk menyampaikan pada orangtua saya sudah menjadi seorang Muslim | apalagi menjelaskan tentang Natal

09. terbayang sudah selaksa bantahan dan omelan yang bakal diterima | apalagi menjelaskan bahwa saya tidak lagi ikut-ikutan Natalan

10. hanya saja saya tahu persis apa itu Natal | bagi kaum Nasrani itu perayaan terbesar | yaitu kelahiran Yesus, Tuhan Juruselamat

11. maka perayaan Natal itu bagi saya memiliki konsekuensi aqidah | yang takkan pernah saya sampaikan selamat padanya apalagi saya ikuti

12. terbayang lagi respon yang saya terima nantinya? | dimarahi? diamuk? diusir? | bagaimanapun juga ini prinsip aqidah yang harus sampai

13. benar saja, orangtua saya tentu tidak terima | dengan perdebatan alot 3 hari akhirnya ke-Islam-an saya bisa mendapat tempat

14. saat itu ayah saya berucap | "papi tidak bisa melarang kamu Muslim, tapi papi juga tidak bisa menerima kamu Muslim"

15. sementara isak tangis ibu saya menjadi latar diskusi alot kita sepanjang 3 hari | hati anak mana yang tak sedih melihat airmata ibunya?

16. tapi sekali lagi ini adalah aqidah yang tidak bisa ditawar | saya menguatkan hati sambil mengingat perjuangan Saad bin Abi Waqqash

17. saya hanya berharap pada Allah bila saya bertahan dengan aqidah ini | Allah memperkenankan suatu saat kelak ayah-ibu saya Muslim

18. namun ada hal yang benar-benar sulit mereka terima | "mengapa juga tidak boleh hanya sekadar mengucap Natal atau ikut merayakan?"

19. saya pahami cara pikir orangtua saya tentu tidak sama dengan apa yang saya pahami | menjelaskan prinsip aqidah bukan mudah

20. bagi mereka "selamat Natal" itu cuma sekedar ucapan | bagi saya kata-kata "cuma" itu seringkali hasutan setan yang paling laris manis

21. walau "cuma" ucapan selamat | saya tidak ingin mengingkari keyakinan utama | bahwa Allah itu satu dan tiada yang bersekutu dengan-Nya

22. dengan berat hati dan kelu lidah karena beratnya amanah ini | saya mencoba menjelaskan pada kedua orangtua saya..

23. "Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa) | namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan"

24. "Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur'an | namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan"

25. "sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya | namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan"

26. "sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur'an | dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa"

27. "dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (QS 19:33)

28. "kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya | juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim"

29. "sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa) | tidak mampu kami menyelesihi Isa"

30. sedang Isa bin Maryam berpesan | "sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku AlKitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi" (QS 19:30)

31. amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal | tidak juga mengucap selamat pada satu hal yang batil

32. kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan | bukan salam pada hari kelahiran Tuhan

33. begitulah saya jelaskan dengan baik | dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah

34. alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik | bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka

35. alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim | yang tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua

36. tiada kebencian pada orang selain Islam | justru karena sayang kita ingin mengajak mereka menuju cahaya Islam | termasuk orangtua saya

37. tidak pernah hubungan saya-ayah, saya-ibu lebih baik dari hari ini | bercanda bergurau, berkisah | tak pernah ada ini sebelum Muslim

38. Islam mengajarkan saya menghormati dan memuliakan orangtua sepenuh jiwa | maka tak pernah ada cerita mereka protes tentang toleransi

39. karena orangtua saya tahu persis hanya karena Islam saya bisa berkasih dengan mereka | Allah yang ajarkan saya menyayangi kedua orangtua

40. alhamdulillah, Allah memudahkan saya menjaga aqidah saya | bukan terombang-ambing tak jelas atas alasan toleransi

41. bila kita selalu baik pergaulannya setiap saat pada saudara kita non-Muslim | tidak mengucap Natal tak menjadi soalan dan masalah

42. alhamdulillah Allah sudah menunjuki kita Islam | mudah-mudahan kita selalu menjaganya | wallahua'lam

Senin, 23 Desember 2013

Resep Garang Asem Bumbu Iris

Saat ini memang bener-bener kudu jaga asupan makanan, kalau perlu seminimal mungkin untuk makanan yang diolah dengan cara digoreng. Jadi, waktu itu saya mencoba untuk membuat garang asem. Saya belum pernah mencicipi makanan ini sebelumnya, hanya menyaksikannya saja dibeberapa acara kuliner di TV. Saat melihat host tersebut makan, wuiiiih.... kelihatannya enak banget, anget-anget, pedes, asam, dan suegeeer tentunya *bumil ngidam

Setelah googling, saya nemu berbagai macam resep garang asem dari berbagai daerah. Bahan utamanya juga tidak hanya ayam, tapi ada juga yang menggunakan daging sapi atau daging ikan. Bahan-bahan lain seperti bumbu, nggak ribet dan mudah ditemukan. Tapi, saya nggak pake giling-giling kecuali giling kemiri dan sedikit merica, yang lain saya iris-iris saja. Saya juga nggak pakai santan, cuma kemiri, karena selama hamil saya mendadak jadi nggak suka makanan yang bersantan.

Berikut bahan-bahannya:

  • Ayam (dipotong kecil-kecil)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Tomat ijo atau belimbing wuluh
  • Serai (diiris tipis-tipis)
  • Daun salam (diiris)
  • Lengkuas (diiris)
  • Jahe sedikit (diiris)
  • Jeruk nipis
  • Kemiri
  • Merica
  • Garam
  • Gula pasir (saya nggak pake penyedap)
  • Daun pisang untuk mempungkus, lidi juga yah
Cara Membuatnya:
  • Ayam yang sudah dipotong kecil-kecil dicuci sampai bersih, kemudian lumuri dengan air perasan jeruk nipis. Diamkan selama 15 menit.
  • Siapkan bumbu-bumbu, seperti bawang merah dan putih, cabe merah, tomat ijo atau belimbing wuluh, serei, daun salam, lengkuas, dan jahe yang telah diiris-iris. Lalu campurkan dengan ayam dan kemiri juga merica yang telah dihaluskan. Beri garam dan gula pasir. (saya nggak pake ditumis)
  • Lalu bungkus campuran tersebut ke dalam daun pisang.
  • Kukus hingga matang
Alhamdulillah... jadi, rasanya juga uenaaaaak.... seger banget. Walaupun nggak pake santan, tapi terlihat seperti memakai santan, karena kemiri dan kaldu ayamnya. Nai juga doyan banget, karena nggak terlalu pedes. Besok kalau udah nggak hamil lagi, saya bakal bikin pakai cabe rawit hehehe...

Nah temans, maaf saya nggak pake takaran, tapi semakin banyak bumbu-bumbu yang kita gunakan, rasanya juga makin enak, apalagi gampang, cuma diiris-iris.




Senin, 16 Desember 2013

Banjir di Kondangan

Saya rasa, hampir setiap orang ingin memiliki sebuah hunian yang berhalaman luas. Tak hanya bisa dijadikan taman cantik yang penuh dengan aneka tanaman, tapi juga bisa menjadi tempat untuk diadakannya sebuah perhelatan. Tapi tentunya tidak semua orang bisa memiliki halaman tersebut. Saat ini bukankah ada gedung-gedung yang disewakan untuk menggelar sebuah perhelatan?. Benar sekali, tapi tidak semua orang memiliki finansial yang cukup untuk menyewa sebuah gedung ketika mereka hendak menggelar hajatan, seperti pernikahan, sunatan, atau hanya syukuran.

Sebenarnya bukan hanya masalah keterbatasan finansial, banyak juga yang beralasan bahwa mengadakan hajatan di rumah rasanya lebih nyaman dan berkesan. Tidak hanya itu, ada beberapa kalangan yang terkadang agak keberatan untuk menghadiri acara yang diadakan di gedung, entah karena kurang percaya diri atau alasan lokasi yang mungkin lebih jauh.

Alhasil, saat ini kita sering menemukan tenda-tenda yang berjejer hingga ke jalan umum. Beberapa meter sebelum dan sesudah jalan, dibuatlah palang khusus yang menandakan bahwa jalan untuk sementara tidak bisa dilewati. Sebagai pengendara yang hendak lewat, tentu terkadang terselip rasa kesal, karena itu berarti harus memutar arah kembali mencari jalan lain.

Weekend kemarin, saya menghadiri sebuah undangan pernikahan. Untung saja tuan rumah memiliki halaman samping yang luas, sehingga tidak menggunakan jalan umum. Tapi saya nggak kebayang deh, kalau seandainya jalan umum digunakan, orang-orang daerah sana mau lewat mana, karena jalan itu satu-satunya akses untuk masyarakat sekitar sana. Belum lagi lokasinya tidak jauh dari daerah aliran sungai (DAS), yaitu sungai Sail.

Di musim penghujan saat ini, bisa dipastikan debit air sungai akan naik bahkan berlimpah hingga mencapai jalan.  Pemandangan tersebutlah yang saya saksikan di lokasi pesta pernikahan. Belum lagi, jalanan menuju ke sana banyak digenangi air yang lumayan tinggi. Walaupun demikian, berhubung hari itu cuaca lumayan cerah, saya menyaksikan para undangan tetap ramai berdatangan.

 Di belakang papan karangan bunga itu sungai Sail


Jalan yang tergenang air

My Antology

My Antology

Follow Me