Selasa, 06 Maret 2012

Istana Siak : Berasa di Negeri 1001 Malam


Ingin tahu bagaimana rasanya hidup di sebuah istana? Meskipun tak bergelar raja dan ratu. Yuk jalan-jalan ke Riau, di sini kita bisa mendatangi sebuah istana indah, yaitu istana Siak. Istana yang terletak di kota Siak, berjarak sekitar 160 km dari ibu kota provinsi Riau, yaitu kota Pekanbaru. Untuk menuju ke sana dapat ditempuh dengan dua rute perjalanan darat, lewat Perawang atau Pangkalan Kerinci.

            Terakhir kali saya mengunjungi istana Siak masih sangat kecil, kira-kira kelas 3 SD. Jadi, jangan ditanya bagaimana saat itu, memori saya sendiri tidak mampu mengingatnya secara baik kecuali lewat foto-foto jadul saat saya masih unyu-unyu hehehe..

            Nah, kebetulan saya berkesempatan untuk berkunjung kembali ke sana. Saat saya sudah menikah dan memiliki seorang putri berusia 2 tahun. Istana Siak tidak begitu jauh dari kota Pekanbaru, cukup di tempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Cuma kalau lalu lintas lagi padat, apalagi jalur yang ditempuh adalah jalur lalu lalangnya mobil-mobil besar pengangkut kayu dan sawit, perjalanan dapat terasa lebih panjang.

            Siak sendiri adalah sebuah kota kecil yang mulai berdandan dan tampil semakin cantik dari sebelumnya, setelah terjadi pemekaran wilayah dan menjadi ibu kota kabupaten Siak. Namun, istana siak yang disebut juga dengan istana Asherayah Al-Hasyimiyah, atau istana Matahari Timur ini sangat terkenal hingga ke mancanegara, terutama yang masih termasuk ke dalam rumpun melayu.

            Sesampainya di sana, tepat pada waktu makan siang. Kami yang memang sudah membawa bekal dari rumah, mencari tempat yang teduh untuk membentang tikar lalu makan dan beristirahat. Saat itu pengunjung tidak terlalu ramai, karena telah dibukanya sebuah waterboom yang tidak jauh dari istana Siak, maka setelah berjalan-jalan di istana siak kebanyakan pengunjung langsung menuju waterboom untuk menikmati sensasi bermain air di tengah kondisi tubuh yang begitu gerah karena panasnya cuaca.

 
                                                  Gambar : Istirahat sambil makan siang

 
Makan sambil menikmati pemandangan luar istana Siak sungguh menyenangkan. Arsitektur istana Siak bercirikan gabungan antara Eropa, India dan  Arab dengan perpaduan Melayu tradisional. Dibangun oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 oleh arsitek berkebangsaan Jerman, Vande Morte. Istana berdiri megah di atas tanah seluas 3.5 Ha.

 
                                              Gambar : Putri kecil saya yang sedang berpose
 
Setelah makan, kami langsung masuk ke dalam istana. Bangunan istana terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan disamping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu Istana.

 
                                       Gambar : Putri saya yang takut dengan patung majelis raja
 
Untuk menuju lantai atas, kita dapat menaiki tangga kuning yang berukir indah dengan bentuk yang melengkung. Konon, banyak orang yang mengatakan bahwa jumlah hitungan anak tangga tidak sama ketika kita naik dan ketika kita turun. Berhubung saya yang memang agak takut dengan ketinggian, apalagi bentuk tangga yang melingkar itu, saya tidak sempat menghitungnya.


                                                    Gambar : pemandangan dari lantai 2

 
Bangunan Istana Siak bersejarah tersebut selesai pada tahun 1893. Pada dinding istana dihiasi dengan keramik khusus didatangkan buatan Prancis. Beberapa koleksi benda antik Istana, kini disimpan Museum Nasional Jakarta, Istananya sendiri menyimpan duplikat dari koleksi tersebut.
Berikut beberapa koleksi yang ada di istana Siak :

 Gambar : Kursi Emas Raja

 
Gambar : Sepatu Permaisuri


Gambar : Pakaian Raja

Gambar : Ruang Makan Kerajaan 










 Gambar : Peninggalan berupa dulang/tampah












Barang-barang peninggalan yang luar bisa bukan. Setelah puas melihat-lihat di dalam istana, kita bisa membeli sauvenir di sebuah bangunan yang masih berada di lingkungan yang sama dengan istana. Selanjutnya kalau kita tidak membawa bekal, kita bisa menuju rumah makan di sekitar istana untuk menikmati menu ikan sungai dan udang gala. Hmmmm.. coba deh asam pedas ikan patinnya maknyoooooos.. lho.

            Terakhir, jika ingin merasakan sensasi berada di negeri 1001 malam, yuuuuuuk.. berkunjung ke istana Siak ini.

Pekanbaru, 06 Maret 2012

“Tulisan ini diikutkan  pada  Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin
 

10 komentar:

  1. Istana Siak yang cantik, ...dan sepatu permaisuri itu bagus ya... kayaknya masih ngetrend juga

    terima kasih mbak Oci sudah ikut serta ya

    BalasHapus
  2. Ibu juri datang.. :)

    Istananya indah ya. Apalagi ruang makannya, tampak mewah banget. Seperti jaman2 Victoria gitu, hehe..
    Yang saya herankan, mengapa yang tertinggal di museum daerah cenderung selalu duplikatnya dan yang asli dibawa ke Jakarta.
    Semoga barang2 antik itu beneran tersimpan di museum nasional... #oops, gak boleh suudzon...

    BalasHapus
  3. Iya Mbak.. sepatunya masih in sampai sekarang ya.. ^_^

    BalasHapus
  4. Iya Mbak Try, perabotan makannya memang banyak dari Eropa. sayang fotonya ngumpet hihihi..

    hmmm... semoga saja tersimpan aman yah Mbak ^_^

    BalasHapus
  5. sepatu permaisurinya bukan dari kaca ya? hehe..
    kayaknya luas dan banyak tamannya ya?

    BalasHapus
  6. Iya Mbak Popi, bukan sepatu kaca tapi lemarinya yang kaca hihihi.. halaman istananya memang luas banget, walaupun cuacanya panas, tapi ada angin yang bertiup sepoi-sepoi.. ^_^

    BalasHapus
  7. setiap mau ke pekan baru pasti pengen mampir ke siak..tp da aja halangannya, tryt menggiurkan bisa kesana hehe
    gudlak kontesnya ya mak :D

    BalasHapus
  8. Ntar kalau jadi, kita pergi bareng aja ya Mimi..
    Aamiin.. tengkiyu udah mampir ^_^

    BalasHapus
  9. Wah, Mbak Oci datanya akurat juga. Saya senang lho menghabiskan waktu disana. Hmmmm waktu motret tangga, nggak bisa sempurna, entah kenapa ....

    BalasHapus
  10. Iya Mbak, saya pas motret tangga juga hasilnya nggak bagus, yah walaupun foto-foto saya nggak sekeren foto-foto dirimu hehehe... jadi nggak saya posting ^_^

    BalasHapus

My Antology

My Antology

Follow Me